Postingan

                                             Menara Penjaga dan Dua Ombak Badai Di sebuah pelabuhan yang sibuk, berdirilah sebuah menara penjaga yang kokoh. Menara ini memiliki tugas yang jelas dari otoritas tertinggi pelabuhan: menyalakan lampu suar setiap malam untuk memandu kapal-kapal dagang, mencatat logistik yang masuk, dan memastikan keamanan perimeter. Menara ini sangat patuh. Hujan, panas, maupun angin kencang tidak pernah membuatnya lalai dari tugas utamanya.   Namun, pengelola pelabuhan dan keluarganya mulai salah mengartikan kesetiaan menara ini. Pengelola itu merasa bahwa karena ia yang menuangkan minyak ke lampu suar, ia berhak memiliki seluruh fondasi menara itu. Ia mulai memaksa menara untuk menopang gudang pribadinya, menjaga ternak keluarganya, bahkan menjemur pakaian-pakaian pribadinya di dinding luar menara. Menara itu diam dan sempat menurut, hingg...
                                           "Mata Air yang Menuntut Balas" Di sebuah lembah, ada sebuah mata air besar yang mengalirkan air ke ladang-ladang di sekitarnya. Pada mulanya, ladang-ladang itu sangat bersyukur. Mata air itu tampak begitu murah hati, menyediakan kesegaran bagi setiap benih yang tumbuh. Semua tanaman menghormatinya sebagai pemberi kehidupan di lembah itu. Namun, waktu berjalan dan musim berubah. Sang pemilik ladang mulai menyadari bahwa mata air itu tidak sekadar mengalir, ia mulai menuntut agar aliran airnya diatur sesuai kehendaknya pribadi, bahkan melintasi batas pagar yang merusak tanaman lain. Ketika pemilik ladang dengan sopan memasang pembatas agar air tetap mengalir pada jalur yang benar, mata air itu mendadak bergolak menjadi sedingin es. Mata air itu bergemuruh dengan suara mistis yang tajam. Ia mengungkit setiap tetes air yang pernah ia berik...
                                                     POHON YANG KOKOH Di sebuah perkebunan yang luas, hiduplah sebatang pohon penjaga yang kokoh dan selalu taat . Pohon ini bertumbuh dengan subur, selalu mengalirkan getah terbaik, dan menghasilkan buah-buah yang manis tepat pada musimnya. Ia memegang teguh tugasnya untuk menjaga tanah tempat ia tertanam, patuh pada ketetapan alam dan pemilik kebun. Namun, pengawas perkebunan itu mulai melihat ketaatan sang pohon sebagai kesempatan. Perlahan-lahan, ia mulai menumpuk beban yang bukan bagian dari tugas sang pohon. Ia meletakkan batu-batu berat di atas akarnya, memaksa ranting-rantingnya menopang jemuran pribadinya, dan memperlakukannya bukan lagi sebagai pohon yang hidup, melainkan sebagai tiang penyangga mati bagi segala urusan pribadinya. Hingga suatu hari, angin kebenaran berembus kencang, membuka mata ...
Gunung yang berdiri kokoh di tepi samudra itu menjadi saksi bisu dari sebuah pertempuran rohani yang tak kasat mata. Di puncaknya, sempat ada hawa dingin yang tidak biasa, bukan karena cuaca, melainkan karena sisa-sisa ambisi manusia yang mencoba berbisik kepada kegelapan demi meraih takhta dan jabatan duniawi. Angin malam sempat membawa kabut tebal, seolah-olah mencoba menutupi sebuah perjanjian tersembunyi yang dibuat di atas sana.  Namun, di dalam iman Kristen, kegelapan tidak pernah memiliki otoritas absolut atas ciptaan Tuhan. Gunung dan laut adalah milik-Nya. Ketika ambisi buta mencoba menancapkan kuasanya di tempat tinggi itu, fajar yang baru selalu punya cara untuk terbit. Cahaya fajar mulai membelah kabut di puncak gunung, melambangkan kuasa kebenaran Firman Tuhan yang membongkar dan mematahkan setiap tipu daya . Mazmur 121 mengingatkan bahwa pertolongan datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, dan Dia tidak akan membiarkan kaki manusia goyah di atas gunung-gunu...
Gambar
    CERPEN BIOGRAFI Oleh : LIBERTINA HULU, S.Pd   SANG INSPIRATIF Bu Susi adalah seorang guru Sekolah Luar Biasa Negeri Gunungsitoli. Ia tinggal di desa terpencil, telah berkeluarga dan memiliki 2 (dua) orang anak. Bu Susi adalah guru berlatar pendidikan Bahasa Inggris. Setiap hari, ia menempuh perjalanan yang jauh dengan motor bututnya untuk sampai ke sekolah. Gaji yang ia terima sangatlah kecil, namun semangatnya untuk mengajar tidak pernah padam. Selain belajar otodidak tentang Bahasa isyarat, bu Susi bertekad untuk berkuliah kembali di Universitas Negeri Padang dengan Jurusan Pendidikan Luar Biasa agar jurusannya benar-benar relevan dengan tempat kerjanya saat ini. Hari ini adalah hari pertama saya mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Gunungsitoli. Disana saya bertemu banyak guru, namun yang paling terkesan pertama sekali adalah dengan bu Susi. Karena saat itu, proses pembelajaran yang beliau lakukan sangat unik. Suatu hari, secara tidak sengaja saya melihat bu susi ...
Gambar
  KASIH TANPA BATAS Namanya Romi Alber Wisaputra Mendrofa. Di sekolah sering dipanggil "romi". Anak yang kreatif punya banyak bakat dan sering aktif dalam berbagai komunitas. Dalam keterbatasan fisiknya, romi membuktikan kepadaku bahwa dititik terendah sekalipun ia menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah penolong. Romi memiliki bakat luar biasa dalam bermusik, ia belajar bermain gitar dengan caranya sendiri, menggunakan tangganya untuk menciptakan melodi yang indah. Meskipun aku tahu ada banyak orang yang meragukan kemampuannya, tapi romi tidak pernah menyerah ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Hari itu, aku mencoba memberi tugas untuknya sekaligus membuat tantangan yang baru  menciptakan sebuah lagu rohani yang bertema "Kasih Tanpa Batas". Dengan usaha dan semangatnya ia menciptakan setiap lirik-lirik lagu yang ia buat sendiri. Dari setiap lirik yang ia tulis aku tahu ada kenyakinan dan harapan yang besar yang selalu ia gumuli setiap hari...

Sejarah Gereja BNKP Kota Gunungsitoli

Gambar
SEJARAH GEREJA BNKP KOTA GUNUNGSITOLI Letak Geografi               Alamat        : Jl. W.R. Supratman No.6, Gunung s itoli     Kota            : Gunungsitol  Provinsi       : Sumatera Utara Lokas i         : D i tengah kota   Sejarah Berdiri Gereja BNKP Kota Gunungsitoli Gedung Gereja pertama di Jemaat BNKP Gunungsitoli dibangun dan diperbesar pada tahun 1926 ketika A. Momeyer menjadi pendeta di Gunungsitoli. Itulah yang dikenal dengan nama “Osali Sebua ba Gunungsitoli ”. Karena Gunungsitoli merupakan salah satu pusat pelayanan terbesar maka setelah “Fangesa Dodo Sebua” melanda Nias, maka Momeyer juga mengkoordinir pendirian gedung pertemuan, rapat dan pembinaan, yang tempatnya tidak jauh dari “Osali Sebua” dan lebih dikenal dengan sebutan “OS...