Gunung yang berdiri kokoh di tepi samudra itu menjadi saksi bisu dari sebuah pertempuran rohani yang tak kasat mata. Di puncaknya, sempat ada hawa dingin yang tidak biasa, bukan karena cuaca, melainkan karena sisa-sisa ambisi manusia yang mencoba berbisik kepada kegelapan demi meraih takhta dan jabatan duniawi. Angin malam sempat membawa kabut tebal, seolah-olah mencoba menutupi sebuah perjanjian tersembunyi yang dibuat di atas sana. Namun, di dalam iman Kristen, kegelapan tidak pernah memiliki otoritas absolut atas ciptaan Tuhan. Gunung dan laut adalah milik-Nya. Ketika ambisi buta mencoba menancapkan kuasanya di tempat tinggi itu, fajar yang baru selalu punya cara untuk terbit.
Cahaya fajar mulai membelah kabut di puncak gunung, melambangkan kuasa kebenaran Firman Tuhan yang membongkar dan mematahkan setiap tipu daya. Mazmur 121 mengingatkan bahwa pertolongan datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, dan Dia tidak akan membiarkan kaki manusia goyah di atas gunung-gunung kesombongan.
Setiap mantra spiritual yang coba diikatkan di atas tebing itu runtuh saat berhadapan dengan nama yang di atas segala nama. Angin laut yang tadinya berembus mencekam, kini berubah menjadi embusan yang membawa damai sejahtera (Shalom). Gunung itu tidak lagi menjadi tempat persekutuan gelap, melainkan kembali menjadi simbol keagungan Tuhan, di mana keserakahan manusia akhirnya dilebur oleh kasih karunia yang memulihkan.
Komentar
Posting Komentar